Selasa, 03 Mei 2016

Pemisahan Langit dan Bumi



PEMISAHAN LANGIT DAN BUMI

Ayat tentang penciptaan langit adalah sebagaimana berikut:

"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (Al Qur'an, 21:30)

Kata "ratq" yang di sini diterjemahkan sebagai "suatu yang padu" digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan "Kami pisahkan antara keduanya" adalah terjemahan kata Arab "fataqa", dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari "ratq". Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini.

Marilah kita kaji ayat ini kembali berdasarkan pengetahuan ini. Dalam ayat tersebut, langit dan bumi adalah subyek dari kata sifat "fatq". Keduanya lalu terpisah ("fataqa") satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, kita pahami bahwa satu titik tunggal berisi seluruh materi di alam semesta. Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk "langit dan bumi" yang saat itu belumlah diciptakan, juga terkandung dalam titik tunggal yang masih berada pada keadaan "ratq" ini. Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materi-materi yang dikandungnya untuk "fataqa" (terpisah), dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk.

Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20.




         

Senin, 02 Mei 2016

Bentuk Bulat Planet Bumi


Pada masa lalu, keyakinan yang menjadi pendapat umum pada saat itu, menyatakan bahwa bumi itu datar dan bertepi. Namun lama kemudian, ternyata kenyakinan mereka bertentangan dengan fakta yang telah mereka temukan sendiri. Selama berabad-abad, sekalipun orang telah berpergian jauh, mereka gagal menemukan tepi bumi. Sir Francis Drake merupakan orang pertama yang membuktikan bahwa bumi itu bulat, yakni ketika dia berlayar mengelilingi bumi pada tahun 1597[19]

Bukti yang mereka dapatkan, adalah bagian atas dari kapal laut yang terlihat lebih dahulu dari bagian bawahnya. Mereka berfikir, kalau sekiranya bumi tidak berbentuk bulat, maka kedua bagian akan terlihat dalam waktu bersamaan. Bukti lain yang mereka dapatkan adalah lengkungan langit yang akan terlihat bulat pada jarak terjauh dari yang dapat dillihat oleh mata mereka di atas permukaan lautan[20]. Mereka tidak mengetahui, bahwa Al-Qur'an telah menyatakan hal yang sama, pada abad ke 7 masehi yang lalu. Allah berfirman; 
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ 

الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ-

Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun[21]

Kawwara adalah kata yang digunakan untuk menunjukan bahwa bumi berbentuk bulat. Kata kawwara artinya menutupkan atau melilitkan, sebagaimana sorban dililitkan di kepala, menutupi atau melilitkan siang dan malam hanya dapat terjadi jika bumi berbentuk bulat. Bumi sebenarnya tidak benar-benar bulat seperti bola, akan tetapi geo-spherical (geoidal)[22]. Ayat suci berikut ini menjelaskan tentang bentuk bumi dengan sangat jelas; 

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاها٠

Dan setelah itu kami membuat bumi dalam bentuk bulat telur[23]. 
Kata Arab untuk bulat adalah dahaha, yang artinya telur burung unta (kata Arab dahahaoleh para penerjemah diterjemahkan dengan "menghamparkan", terjemahan ini juga betul)[24]Prof. Dr. Suleyman Atec[25], mantan kepala Departemen Agama Turki, memberikan defenisi untuk kata tersebut, kata dahaha berarti membentang, memberi (sesuatu) bentuk bulat, kata dahaha juga didefenisikan sebagai permainan yang dimainkan kenari. 

Maksudnya, Allah telah telah menciptakan bumi dengan membentangkannya dalam bentuk seperti lonjong (bulat) telur[26]. Pengetahuan manusia tentang bentuk bulat bumi mengalami perkembangan, dengan kemajuan teknologi, para ilmuwan telah berhasil mengambil gambar sesungguhnya dari bentuk bumi yaitu bulat telur sebagaimana telah disebutkan oleh Al-Qur'an 1400 tahun yang lalu

Minggu, 01 Mei 2016

Pengembangan Alam Semesta


Pengembangan
Q.S Adz-Dzaariyaat : 47

وَالسَّمَاء بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

"Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami benar-benar meluaskannya" .

Pada kata "langit", yang dikatakan pada ayat Al-Qur'an ini, digunakan di banyak tempat dalam Al-Qur'an dengan makna luar angkasa dan alam semesta. Dengan kata lain, yang dikatakan dalam Al-Qur'an bahwa alam semesta "mengalami perluasan atau mengembang", yang Alhamdulillah, para ilmuan modern masa kini membenarkan pernyataan Al-Qur'an..

Dulu, hingga awal pada abad ke-20, di dunia ilmu pengetahuan, menurut mereka pandangan satu-satunya pada umumnya bahwa alam semesta itu bersifat teta[ dan telah ada sejak dahulu kala tanpa ada asal mula atau permulaan. Akan tetapi, para peneliti, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan oleh para ilmuan dengan menggunakan teknologi modern ini, mengungkapkan bahwa sesungguhnya alam semesta itu memiliki permulaan dan ia (alam semesta) terus-menerus mengembang.

Seorang ahli fisikawan Rusia, Alexander Friendmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, awal abad ke-20 menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.

Hal ini kebenarannya telah dibuktikan dan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, ketika mengamati langit, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus menerus bergerak saling menjauhi. Jadi, sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak saling menjauhi satu sama lain yang, artinya bahwa alam semesta itu secara terus-menerus berkembang. Semakin lama pengamatan yang ia lakukan, pada tahun-tahun berikutnya ia mendapatkan sebuah fakta bahwa alam semesta memang terus mengembang.

Sumber : http://articles-by-me.blogspot.co.id/2014/07/pengetahuan-al-quran-dalam-bidang.html