Kamis, 12 Mei 2016

Suara dapat Menghancurkan

“Dan satu suara keras yang mengguntur menimpa orang-orang yang zalim itu , lalu mereka mati bergelimpangan di rumahnya.” (QS HUD: 67)
“ Dan tatkala datang azab kami , kami selamatkan syua’aib dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengan dia dengan rahmar dari kami, dan orang-orang yang zalim dibinasakan oleh satu suara yang menguntur lalu jadilah mereka mati bergelimpangan di rumahnya .” (QS.HUD:04)


Jelaskan bahwa Allah Swt menghancurkan kaum  nabi saleh dan syu’aib a.s dengan menggunak suara (teriakan dan sebagainya) dahsyat . Ada tiga jenis suara : (1) . suara infra yang berfrekuensi kurang dari 20 HZ. , (2) . Frekuensi suara yang dapat di dengar ,dari 20 hingga 20 k HZ dan (3) suara frekuensi ultra diatas 20 Khz.
Para ilmuwan telah meneliti efek biologis dari suara infra . Ambang suara infra adalah sekitar  140dB (kerasnya suara diukur dengan satuan suara yang disebut Desibel – dB) pada 20HZ yang meningkat menjadi 162 dB  pada 2 Hz hingga  175-180 dB untuk tekanan statis .
Dilaporkan bahwa Vladimir Gavreau memiliki sebuah instalasi suara infra yang dapat ia hidupkan untuk membunuh segala sesuatu dalam jarak lima mil.juga dapat digunakan untuk meruntuhkan tembok dan mendobrak jendela . ia dapat membunuh dengan mengatur vibrasi didalam tubuh .
Gelombang terkejut dari ledakan dapat menghasilkan berbagai efek yang luar biasa di bidang peralatan akustik .
1400tahun yang lalu , tak seorang pun dapat membayangkan bahwa suara dapat membunuh ribuan orang .
Dalam hal ini Allah berfirman :
“ ketahuilah bahwa sesungguhnya allah amat berat siksaanya dan bahwa sesungguhnya allah maha pengampun lagi maha penyayang.” (QS.Al-Maidah : 98)

“Hai yang tidak berguna bagi orang-orang zalim permintaan maafnya dan bagi merekalah laknat dan bagi merekalah tempat tinggal yang buruk . “( QS.Al-Mu’min:52)

Sumber : http://keajaibansainsdalamal-quran.blogspot.co.id/2015/09/suara-dapat-menghancurkan.html#more

Selasa, 10 Mei 2016

Angin yang Mengawinkan





Gambar di atas memperlihatkan tahap-tahap pembentukan gelombang air. Gelombang air terbentuk ketika angin meniup permukaan air. Akibat pengaruh angin ini, pertikel-partikel air mulai bergerak melingkar. Pergerakan ini kemudian mendorong terbentuknya gelombang air yang silih berganti, dan butiran-butiran air kemudian terbentuk oleh gelombang ini yang kemudian tersebar dan beterbangan di udara.

Dalam sebuah ayat Al Qur’an disebutkan sifat angin yang mengawinkan dan terbentuknya hujan karenanya.
"Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya." (Al Qur'an, 15:22)
Dalam ayat ini ditekankan bahwa fase pertama dalam pembentukan hujan adalah angin. Hingga awal abad ke 20, satu-satunya hubungan antara angin dan hujan yang diketahui hanyalah bahwa angin yang menggerakkan awan. Namun penemuan ilmu meteorologi modern telah menunjukkan peran "mengawinkan" dari angin dalam pembentukan hujan.
Fungsi mengawinkan dari angin ini terjadi sebagaimana berikut:
Di atas permukaan laut dan samudera, gelembung udara yang tak terhitung jumlahnya terbentuk akibat pembentukan buih. Pada saat gelembung-gelembung ini pecah, ribuan partikel kecil dengan diameter seperseratus milimeter, terlempar ke udara. Partikel-partikel ini, yang dikenal sebagai aerosol, bercampur dengan debu daratan yang terbawa oleh angin dan selanjutnya terbawa ke lapisan atas atmosfer. . Partikel-partikel ini dibawa naik lebih tinggi ke atas oleh angin dan bertemu dengan uap air di sana. Uap air mengembun di sekitar partikel-partikel ini dan berubah menjadi butiran-butiran air. Butiran-butiran air ini mula-mula berkumpul dan membentuk awan dan kemudian jatuh ke Bumi dalam bentuk hujan.
Sebagaimana terlihat, angin “mengawinkan” uap air yang melayang di udara dengan partikel-partikel yang di bawanya dari laut dan akhirnya membantu pembentukan awan hujan.
Apabila angin tidak memiliki sifat ini, butiran-butiran air di atmosfer bagian atas tidak akan pernah terbentuk dan hujanpun tidak akan pernah terjadi.
Hal terpenting di sini adalah bahwa peran utama dari angin dalam pembentukan hujan telah dinyatakan berabad-abad yang lalu dalam sebuah ayat Al Qur’an, pada saat orang hanya mengetahui sedikit saja tentang fenomena alam…

Sumber : http://www.keajaibanalquran.com/earth_winds.html

Senin, 09 Mei 2016

Laut Yang Tidak Bercampur Satu Sama Lain

         
         Terdapat gelombang besar, arus kuat, dan gelombang pasang di Laut Tengah dan Samudra Atlantik. Air Laut Tengah memasuki Samudra Atlantik melalui selat Jibraltar. Namun suhu, kadar garam, dan kerapatan air laut di kedua tempat ini tidak berubah karena adanya penghalang yang memisahkan ked

Salah satu di antara sekian sifat lautan yang baru-baru ini ditemukan adalah berkaitan dengan ayat Al Qur’an sebagai berikut:
“Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tak dapat dilampaui oleh masing-masing.” (QS. Ar Rahman:19-20)
Sifat lautan yang saling bertemu, akan tetapi tidak bercampur satu sama lain ini telah ditemukan oleh para ahli kelautan baru-baru ini. Dikarenakan gaya fisika yang dinamakan “tegangan permukaan”, air dari laut-laut yang saling bersebelahan tidak menyatu. Akibat adanya perbedaan masa jenis, tegangan permukaan mencegah lautan dari bercampur satu sama lain, seolah terdapat dinding tipis yang memisahkan mereka. (Davis, Richard A., Jr. 1972, Principles of Oceanography, Don Mills, Ontario, Addison-Wesley Publishing, s. 92-93.)
Terdapat gelombang besar, arus kuat, dan gelombang pasang di Laut Tengah dan Samudra Atlantik. Air Laut Tengah memasuki Samudra Atlantik melalui selat Jibraltar. Namun suhu, kadar garam, dan kerapatan air laut di kedua tempat ini tidak berubah karena adanya penghalang yang memisahkan keduanya.
Sisi menarik dari hal ini adalah bahwa pada masa ketika manusia tidak memiliki pengetahuan apapun mengenai fisika, tegangan permukaan, ataupun ilmu kelautan, hal ini dinyatakan dalam Al Qur’an

Sumber  :    http://www.keajaibanalquran.com/earth_seas.html
https://may2sdiary.wordpress.com/2013/12/09/penemuan-ilmiah-dalam-al-quran/


                        

Sabtu, 07 Mei 2016

Kegelapan dan Gelombang di Dasar Lautan


Pengukuran yang dilakukan dengan teknologi masa kini berhasil mengungkapkan bahwa antara 3 hingga 30% sinar matahari dipantulkan oleh permukaan laut. Jadi, hampir semua tujuh warna yang menyusun spektrum sinar matahari diserap satu demi satu ketika menembus permukaan lautan hingga kedalaman 200 meter, kecuali sinar biru (lihat gambar di samping). Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak dijumpai sinar apa pun. (lihat gambar atas). Fakta ilmiah ini telah disebutkan dalam ayat ke-40 surat An Nuur sekitar 1400 tahun yang lalu..

"Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun." (Al Qur'an, 24:40)
Keadaan umum tentang lautan yang dalam dijelaskan dalam buku berjudul Oceans:
Kegelapan dalam lautan dan samudra yang dalam dijumpai pada kedalaman 200 meter atau lebih. Pada kedalaman ini, hampir tidak dijumpai cahaya. Di bawah kedalaman 1000 meter, tidak terdapat cahaya sama sekali. (Elder, Danny; and John Pernetta, 1991, Oceans, London, Mitchell Beazley Publishers, s. 27)
Kini, kita telah mengetahui tentang keadaan umum lautan tersebut, ciri-ciri makhluk hidup yang ada di dalamnya, kadar garamnya, serta jumlah air, luas permukaan dan kedalamannya. Kapal selam dan perangkat khusus yang dikembangkan menggunakan teknologi modern, memungkinkan para ilmuwan untuk mendapatkan informasi ini.
Manusia tak mampu menyelam pada kedalaman di bawah 40 meter tanpa bantuan peralatan khusus. Mereka tak mampu bertahan hidup di bagian samudra yang dalam nan gelap, seperti pada kedalaman 200 meter. Karena alasan inilah, para ilmuwan hanya baru-baru ini saja mampu menemukan informasi sangat rinci tersebut tentang kelautan. Namun, pernyataan "gelap gulita di lautan yang dalam" digunakan dalam surat An Nuur 1400 tahun lalu. Ini sudah pasti salah satu keajaiban Al Qur’an, sebab infomasi ini dinyatakan di saat belum ada perangkat yang memungkinkan manusia untuk menyelam di kedalaman samudra.
Selain itu, pernyataan di ayat ke-40 surat An Nuur "Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan…"mengarahkan perhatian kita pada satu keajaiban Al Qur’an yang lain.
Para ilmuwan baru-baru ini menemukan keberadaan gelombang di dasar lautan, yang "terjadi pada pertemuan antara lapisan-lapisan air laut yang memiliki kerapatan atau massa jenis yang berbeda." Gelombang yang dinamakan gelombang internal ini meliputi wilayah perairan di kedalaman lautan dan samudra dikarenakan pada kedalaman ini air laut memiliki massa jenis lebih tinggi dibanding lapisan air di atasnya. Gelombang internal memiliki sifat seperti gelombang permukaan. Gelombang ini dapat pecah, persis sebagaimana gelombang permukaan. Gelombang internal tidak dapat dilihat oleh mata manusia, tapi keberadaannya dapat dikenali dengan mempelajari suhu atau perubahan kadar garam di tempat-tempat tertentu. (Gross, M. Grant; 1993, Oceanography, a View of Earth, 6. edition, Englewood Cliffs, Prentice-Hall Inc., s. 205)
Pernyataan-pernyataan dalam Al Qur'an benar-benar bersesuaian dengan penjelasan di atas. Tanpa adanya penelitian, seseorang hanya mampu melihat gelombang di permukaan laut. Mustahil seseorang mampu mengamati keberadaan gelombang internal di dasar laut. Akan tetapi, dalam surat An Nuur, Allah mengarahkan perhatian kita pada jenis gelombang yang terdapat di kedalaman samudra. Sungguh, fakta yang baru saja diketemukan para ilmuwan ini memperlihatkan sekali lagi bahwa Al Qur'an adalah kalam Allah.



Jumat, 06 Mei 2016

Gunung-Gunung Bagaikan Pasak


“Dan telah kami jadikan di bumi ini gunung-gunung yang kokoh supaya bumi itu goncang bersama mereka .” (QS.Al-Anbiyaa:31)
“ Dan dia meletakkan gunung-gunung bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu.”(QS.Lukman : 10)
“ Bukankah kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak ?”(QS.An-Naba’: 6-7)


Gunung– gunung yang ada ini, sebagaimana kulit bumi yang dingin ,memainkan peran penting (sebagaimana dikatakan oleh teori geologi modern), yakni sebagai pasak agar benua-benua tetap berada di tempatnya . Benua – benua ini sesungguhnya mengapung pada lapisan cair yang terletak dibawah ,itulah sebabnya dibawah setiap gunung terdapat kebalikan dari bentuk gunung yang berada di bawah permukaan .
Panjang jari – jari bumi kira-kira 3,750 mil dan kulit bumi tempat kita tinggal sangatlah tipis , kira-kira 1 hingga 30 mil .karena kulit bumi sangatlah tipis ,maka terdapat kemungkinan untuk mengalami goncangan gunung- gunung berfungsi seperti pancang atau pasak  yang menahan kulit bumi dan memberikan kestabilan .Dengan demikian , gunung yang berbentuk pasak ini akarnya menghujam di bumi . Jadi jelaslah bahwa menstabilkan kulit bumi . Al-Quran dengan jelas menyebutkan fungsi gunung –dan bentuknya dibawah tanah yang seperti pasak untuk mencegah terjadinya goncangan pada bumi .
Para ilmuwan menemukan fakta ini kurang dari 150 tahun yang lalu,dan fakta ini diterima sebagai hukum dasar dalam geologi . Sesungguhnya sangat menakjubkan bahwa  penjelasan Al-quran sangat sesuai data geologis modern . Allah swt berfirman:
“ Sesungguhnya bagi allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak  dan tidak dilangit .” (QS.Ali-Imran : 5)
"Dan katakanlah :” Segala puji bagi allah , dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran nya .maka kamu akan mengetahuinya . dan tuhanmu tiada lalai dari apa yang kamu kerjakan .” (QS.An-Naml: 93).

Sumber : http://keajaibansainsdalamal-quran.blogspot.co.id/search/label/GUNUNG


Kamis, 05 Mei 2016

Awan dan Hujan

“Tidaklah kamu melihat bahwa allah mengarak awan , kemudian mengumpulkan antaranya , kemudian menjadinya bertindih – tindih , maka kelihatanlah olehmu hujan keluar dari celah-celahnya dan allah menurunkan es dari langit, dari gunung-gunung ,maka ditimpakan nya es itu kepada siapa ya berkehendakinya ,kilauan kilat awan itu hampir – hampir menghilangkan penglihatan." (QS.An-Nur: 43)


Mari kita perhatikan ayat suci diatas dari sudut pandang meteorology modern. Para ilmuwan telah mengetahui bahwa awan hujan terjadi dan berbentuk menurut system tertentu dan tahap tertentu berdasarkan tipe angin dan awan . Salah satu jenis awan hujan adalah  awan cumulonimbus .Para meteorolog telah meneliti bagaimana awan cumulonimbus terbentuk dan bagaimana awan itu  menghasilkan hujan , hujan es ,dan kilat 
Mereka telah menemukan bahwa awan cumulonimbus mengalami proses berikut ini untuk dapat menghasilkan hujan .
Awan didesak oleh angin. Awan cumulonimbus mulai terbentuk ketika angina mendesak beberapa bagian dari awan (awan cumulus) ke daerah tempat awan – awan bertemu . ketika awan – awan kecil saling bertemu ,udara yang bergerak keatas dari awan lebih besar yang terbentuk  pun bertambah banyak .udara yang bergerak keatas ,yang berada didekat awan yang di tengah ,lebih kuat daripada yang disamping .Udara yang bergerak ke atas menyebabkan gumpalan awan berubah menjadi vertical .Perubahan posisi awan yang menjadi vertical ini menyebabkan gumpalan awan menyebar ke tempat-tempat yang lebih dingin ,dimana butiran air dan es  semakin besar.Ketika butira – butiran air dan es ini menjadi semakin berat sehingga udara yang bergerak keatas tidak mampu lagi menompangnya ,maka jatuhlah butiran air itu dari awan  dalam bentuk hujan ,hujan es , dan sebagainya .
Para meteorolog akhir-akhir ini mengetahui dengan detail formasi awan , struktur ,dan fungsi nya dengan menggunakan peralatan modern seperti pesawat terbang ,  satelit , computer, balon, dan peralatan lainnya untuk meneliti angin dan arahnya , untuk mengukur kelembapan dan variasinya , serta untuk menentukan tingkat dan variasi tekanan atmosfer.Padahal 1400 yang lalu ,penjelasan tentang fakta di atas telah dijelaskan dalam al quran  surat An-Nuur ayat 43.
 Dalam ayat sebelumnya, setelah menyebutkan awan dan hujan ,kemudian dibicarakan tentang hujan es dan kilat . Para meteorology telah menemukan bahwa awan – awan cumulonimbus ini,yang menurunkan hujan, es, mencapai ketinggian 25.000 hingga 30.000 kaki (4.7 hingga 5.7 mil),seperti ketinggian gunung ,(gunung Himalaya berketinggian 29.023 kaki) ,Sebagaimana telah dibicarakan dalam Al-Quran  mengatakan kilat untuk menyebut hujan es? Tentu nya telah diketahui bahwa hujan es adalah factor utama terjadinya kilat .
Para ilmuwan akhir-akhir ini mengetahui korelasi antara hujan es dengan kilat . Hingga tahun 1600 SM. Pandangan Aristoteles dalam meteorology sangat dominan .Misalnya ,Ia berkata bahwa atmosfer mengandung dua macam ekshalasi , yakni lembap dan kering . ia berkata bahwa guruh adalah suara benturan ekshalasi kering dengan awan-awan di dekatnya , dan kilat adalah  kobaran dan pembakaran ekshalasi kering dari api yang kecil . Inilah beberapa pandangan yang salah tentang meteorology yang berlaku pada saat Al-Quran diturunkan ,empat belas abad yang lalu .
Marilah kita renungkan firman allah swt.
“ Sesungguhnya kami menolong rasulnya kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksinya."(QS.al-mumin: 51)
“Sesungguhnya kami telah menjelaskan kepada mu tanda – tanda  kebesaran supaya kamu memikirkannya .” (QS.Al-Hadiid : 17)

Sumber : http://keajaibansainsdalamal-quran.blogspot.co.id/2015/10/awan-hujan-hujan-es-dan-guruh.html#more

Rabu, 04 Mei 2016

Lapisan-lapisan Atmosfer





Bumi memiliki seluruh sifat yang diperlukan bagi kehidupan. Salah satunya adalah keberadaan atmosfir, yang berfungsi sebagai lapisan pelindung yang melindungi makhluk hidup. Adalah fakta yang kini telah diterima bahwa atmosfir terdiri dari lapisan-lapisan berbeda yang tersusun secara berlapis, satu di atas yang lain. Persis sebagaimana dipaparkan dalam Al Qur’an, atmosfir terdiri dari tujuh lapisan. Ini pastilah salah satu keajaiban Al Qur’an 

Satu fakta tentang alam semesta sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an adalah bahwa langit terdiri atas tujuh lapis.
"Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu." (Al Qur'an, 2:29)
"Kemudian Dia menuju langit, dan langit itu masih merupakan asap. Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa dan Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya." (Al Qur'an, 41:11-12)
Kata "langit", yang kerap kali muncul di banyak ayat dalam Al Qur’an, digunakan untuk mengacu pada "langit" bumi dan juga keseluruhan alam semesta. Dengan makna kata seperti ini, terlihat bahwa langit bumi atau atmosfer terdiri dari tujuh lapisan.
Saat ini benar-benar diketahui bahwa atmosfir bumi terdiri atas lapisan-lapisan yang berbeda yang saling bertumpukan. Lebih dari itu, persis sebagaimana dinyatakan dalam Al Qur’an, atmosfer terdiri atas tujuh lapisan. Dalam sumber ilmiah, hal tersebut diuraikan sebagai berikut:
Para ilmuwan menemukan bahwa atmosfer terdiri diri beberapa lapisan. Lapisan-lapisan tersebut berbeda dalam ciri-ciri fisik, seperti tekanan dan jenis gasnya. Lapisan atmosfer yang terdekat dengan bumi disebut TROPOSFER. Ia membentuk sekitar 90% dari keseluruhan massa atmosfer. Lapisan di atas troposfer disebut STRATOSFER. LAPISAN OZON adalah bagian dari stratosfer di mana terjadi penyerapan sinar ultraviolet. Lapisan di atas stratosfer disebut MESOSFER. . TERMOSFER berada di atas mesosfer. Gas-gas terionisasi membentuk suatu lapisan dalam termosfer yang disebut IONOSFER. Bagian terluar atmosfer bumi membentang dari sekitar 480 km hingga 960 km. Bagian ini dinamakan EKSOSFER. .
(Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 319-322)
Jika kita hitung jumlah lapisan yang dinyatakan dalam sumber ilmiah tersebut, kita ketahui bahwa atmosfer tepat terdiri atas tujuh lapis, seperti dinyatakan dalam ayat tersebut.
1. Troposfer
2. Stratosfer
3. Ozonosfer
4. Mesosfer
5. Termosfer
6. Ionosfer
7. Eksosfer
Keajaiban penting lain dalam hal ini disebutkan dalam surat Fushshilat ayat ke-12, "… Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya." Dengan kata lain, Allah dalam ayat ini menyatakan bahwa Dia memberikan kepada setiap langit tugas atau fungsinya masing-masing. Sebagaimana dapat dipahami, tiap-tiap lapisan atmosfir ini memiliki fungsi penting yang bermanfaat bagi kehidupan umat manusia dan seluruh makhluk hidup lain di Bumi. Setiap lapisan memiliki fungsi khusus, dari pembentukan hujan hingga perlindungan terhadap radiasi sinar-sinar berbahaya; dari pemantulan gelombang radio hingga perlindungan terhadap dampak meteor yang berbahaya.
Salah satu fungsi ini, misalnya, dinyatakan dalam sebuah sumber ilmiah sebagaimana berikut:
Atmosfir bumi memiliki 7 lapisan. Lapisan terendah dinamakan troposfir. Hujan, salju, dan angin hanya terjadi pada troposfir.
(http://muttley.ucdavis.edu/Book/Atmosphere/beginner/layers-01.html)
Adalah sebuah keajaiban besar bahwa fakta-fakta ini, yang tak mungkin ditemukan tanpa teknologi canggih abad ke-20, secara jelas dinyatakan oleh Al Qur’an 1.400 tahun yang lalu.

Sumber : https://may2sdiary.wordpress.com/2013/12/09/penemuan-ilmiah-dalam-al-quran/

Selasa, 03 Mei 2016

Pemisahan Langit dan Bumi



PEMISAHAN LANGIT DAN BUMI

Ayat tentang penciptaan langit adalah sebagaimana berikut:

"Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?" (Al Qur'an, 21:30)

Kata "ratq" yang di sini diterjemahkan sebagai "suatu yang padu" digunakan untuk merujuk pada dua zat berbeda yang membentuk suatu kesatuan. Ungkapan "Kami pisahkan antara keduanya" adalah terjemahan kata Arab "fataqa", dan bermakna bahwa sesuatu muncul menjadi ada melalui peristiwa pemisahan atau pemecahan struktur dari "ratq". Perkecambahan biji dan munculnya tunas dari dalam tanah adalah salah satu peristiwa yang diungkapkan dengan menggunakan kata ini.

Marilah kita kaji ayat ini kembali berdasarkan pengetahuan ini. Dalam ayat tersebut, langit dan bumi adalah subyek dari kata sifat "fatq". Keduanya lalu terpisah ("fataqa") satu sama lain. Menariknya, ketika mengingat kembali tahap-tahap awal peristiwa Big Bang, kita pahami bahwa satu titik tunggal berisi seluruh materi di alam semesta. Dengan kata lain, segala sesuatu, termasuk "langit dan bumi" yang saat itu belumlah diciptakan, juga terkandung dalam titik tunggal yang masih berada pada keadaan "ratq" ini. Titik tunggal ini meledak sangat dahsyat, sehingga menyebabkan materi-materi yang dikandungnya untuk "fataqa" (terpisah), dan dalam rangkaian peristiwa tersebut, bangunan dan tatanan keseluruhan alam semesta terbentuk.

Ketika kita bandingkan penjelasan ayat tersebut dengan berbagai penemuan ilmiah, akan kita pahami bahwa keduanya benar-benar bersesuaian satu sama lain. Yang sungguh menarik lagi, penemuan-penemuan ini belumlah terjadi sebelum abad ke-20.




         

Senin, 02 Mei 2016

Bentuk Bulat Planet Bumi


Pada masa lalu, keyakinan yang menjadi pendapat umum pada saat itu, menyatakan bahwa bumi itu datar dan bertepi. Namun lama kemudian, ternyata kenyakinan mereka bertentangan dengan fakta yang telah mereka temukan sendiri. Selama berabad-abad, sekalipun orang telah berpergian jauh, mereka gagal menemukan tepi bumi. Sir Francis Drake merupakan orang pertama yang membuktikan bahwa bumi itu bulat, yakni ketika dia berlayar mengelilingi bumi pada tahun 1597[19]

Bukti yang mereka dapatkan, adalah bagian atas dari kapal laut yang terlihat lebih dahulu dari bagian bawahnya. Mereka berfikir, kalau sekiranya bumi tidak berbentuk bulat, maka kedua bagian akan terlihat dalam waktu bersamaan. Bukti lain yang mereka dapatkan adalah lengkungan langit yang akan terlihat bulat pada jarak terjauh dari yang dapat dillihat oleh mata mereka di atas permukaan lautan[20]. Mereka tidak mengetahui, bahwa Al-Qur'an telah menyatakan hal yang sama, pada abad ke 7 masehi yang lalu. Allah berfirman; 
خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ بِالْحَقِّ يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ وَسَخَّرَ 

الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ كُلٌّ يَجْرِي لِأَجَلٍ مُسَمًّى أَلَا هُوَ الْعَزِيزُ الْغَفَّارُ-

Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam dan menundukkan matahari dan bulan, masing-masing berjalan menurut waktu yang ditentukan. ingatlah dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Pengampun[21]

Kawwara adalah kata yang digunakan untuk menunjukan bahwa bumi berbentuk bulat. Kata kawwara artinya menutupkan atau melilitkan, sebagaimana sorban dililitkan di kepala, menutupi atau melilitkan siang dan malam hanya dapat terjadi jika bumi berbentuk bulat. Bumi sebenarnya tidak benar-benar bulat seperti bola, akan tetapi geo-spherical (geoidal)[22]. Ayat suci berikut ini menjelaskan tentang bentuk bumi dengan sangat jelas; 

وَالْأَرْضَ بَعْدَ ذَلِكَ دَحَاها٠

Dan setelah itu kami membuat bumi dalam bentuk bulat telur[23]. 
Kata Arab untuk bulat adalah dahaha, yang artinya telur burung unta (kata Arab dahahaoleh para penerjemah diterjemahkan dengan "menghamparkan", terjemahan ini juga betul)[24]Prof. Dr. Suleyman Atec[25], mantan kepala Departemen Agama Turki, memberikan defenisi untuk kata tersebut, kata dahaha berarti membentang, memberi (sesuatu) bentuk bulat, kata dahaha juga didefenisikan sebagai permainan yang dimainkan kenari. 

Maksudnya, Allah telah telah menciptakan bumi dengan membentangkannya dalam bentuk seperti lonjong (bulat) telur[26]. Pengetahuan manusia tentang bentuk bulat bumi mengalami perkembangan, dengan kemajuan teknologi, para ilmuwan telah berhasil mengambil gambar sesungguhnya dari bentuk bumi yaitu bulat telur sebagaimana telah disebutkan oleh Al-Qur'an 1400 tahun yang lalu

Minggu, 01 Mei 2016

Pengembangan Alam Semesta


Pengembangan
Q.S Adz-Dzaariyaat : 47

وَالسَّمَاء بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

"Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami benar-benar meluaskannya" .

Pada kata "langit", yang dikatakan pada ayat Al-Qur'an ini, digunakan di banyak tempat dalam Al-Qur'an dengan makna luar angkasa dan alam semesta. Dengan kata lain, yang dikatakan dalam Al-Qur'an bahwa alam semesta "mengalami perluasan atau mengembang", yang Alhamdulillah, para ilmuan modern masa kini membenarkan pernyataan Al-Qur'an..

Dulu, hingga awal pada abad ke-20, di dunia ilmu pengetahuan, menurut mereka pandangan satu-satunya pada umumnya bahwa alam semesta itu bersifat teta[ dan telah ada sejak dahulu kala tanpa ada asal mula atau permulaan. Akan tetapi, para peneliti, pengamatan, dan perhitungan yang dilakukan oleh para ilmuan dengan menggunakan teknologi modern ini, mengungkapkan bahwa sesungguhnya alam semesta itu memiliki permulaan dan ia (alam semesta) terus-menerus mengembang.

Seorang ahli fisikawan Rusia, Alexander Friendmann, dan ahli kosmologi Belgia, George Lemaitre, awal abad ke-20 menghitung dan menemukan bahwa alam semesta senantiasa bergerak dan mengembang.

Hal ini kebenarannya telah dibuktikan dan juga dengan menggunakan data pengamatan pada tahun 1929. Edwin Hubble, seorang astronom Amerika, ketika mengamati langit, menemukan bahwa bintang-bintang dan galaksi terus menerus bergerak saling menjauhi. Jadi, sebuah alam semesta, di mana segala sesuatunya terus bergerak saling menjauhi satu sama lain yang, artinya bahwa alam semesta itu secara terus-menerus berkembang. Semakin lama pengamatan yang ia lakukan, pada tahun-tahun berikutnya ia mendapatkan sebuah fakta bahwa alam semesta memang terus mengembang.

Sumber : http://articles-by-me.blogspot.co.id/2014/07/pengetahuan-al-quran-dalam-bidang.html